DUMAI – UPT Puskesmas Purnama menunjukkan komitmennya terhadap kesehatan holistik generasi muda dengan menggelar kegiatan sosialisasi ganda di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Jannah pada hari Selasa, 15 Juli 2025. Uniknya, kegiatan ini mengangkat dua isu krusial sekaligus: program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan pencegahan kekerasan pada anak.
Menargetkan para santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), tim Puskesmas Purnama yang dipimpin langsung oleh Kepala Puskesmas, dr. Diana Rabia, menerapkan pendekatan yang sensitif dan efektif. Tim dibagi menjadi dua kelompok terpisah; satu tim memberikan penyuluhan di asrama putra dan tim lainnya di asrama putri. Langkah ini diambil untuk menciptakan ruang diskusi yang lebih aman, nyaman, dan terbuka bagi para santri.
Di setiap sesi, materi pertama berfokus pada sosialisasi CKG. Para petugas kesehatan menjelaskan manfaat dan alur pemeriksaan kesehatan yang akan segera dilaksanakan pemerintah. Tujuannya agar para santri memahami pentingnya deteksi dini anemia, masalah gizi, dan potensi penyakit lainnya untuk menunjang kegiatan belajar mereka.
Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan materi yang tak kalah penting, yaitu tentang pencegahan kekerasan pada anak. Para santri dibekali pemahaman untuk mengenali berbagai bentuk kekerasan (fisik, verbal, psikologis, dan siber), pentingnya berani bersuara, dan kepada siapa mereka bisa melapor dengan aman jika mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan.
Kepala Puskesmas Purnama, dr. Diana Rabia, menegaskan bahwa kesehatan santri harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya fisik tetapi juga mental.
"Kesehatan anak-anak kita tidak hanya soal fisik yang bisa kita periksa melalui CKG, tetapi juga kesehatan mental dan emosional mereka," ujar dr. Diana. "Lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, harus menjadi tempat yang aman dari segala bentuk kekerasan. Kami hadir untuk memastikan para santri tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga kuat secara mental, berani, dan tahu cara melindungi diri serta teman-temannya."
Dengan diskusi mengenai isu kekerasan yang terbilang sensitif dapat berjalan cukup mendalam dan efektif, diharapkan dapat menciptakan lingkungan pondok pesantren yang sehat secara fisik dan aman secara psikologis bagi seluruh santri.
Editor : FT